Sperma buatan, manusia sintetik dan manusia organik.

Sebuah klaim dari ilmuan inggris bahwa mereka berhasil membuat sperma dari sel batang, tentu saja klaim itu langsung menimbulkan pro dan kontra. yang setuju, terutama ilmuan penemunya pasti berharap temuan ini dapat menolong pria yang mengalami masalah dengan kesuburannya dan yang tidak setuju tentu masih meragukan apakah sperma yang dihasilkan dapat berfungsi normal yang pada akhirnya dapat menghasilkan individu yang “sempurna” .

Terlepas dari semua kontroversi yang telah dan akan terjadi, coba bayangkan penelitian 10 tahun menghasilkan sperma buatan, 10 tahun lagi akan ditemukan sel telur buatan bersamaan dengan ditemukan rahim buatan, tentu tinggal menunggu waktu akan ada saat dimana bayi tidak dilahirkan melainkan dibiakkan diluar kodrat alaminya. tentu ilmuan yang mengembangkan saat itu akan berdalih manusia sintetik ini akan digunakan untuk menggantikan tugas manusia organik, terutama untuk pekerjaan yang beresiko tinggi. karena manusia sintetik dibiakkan diluar rahim tentu dia tidak punya ikatan emosional, tidak punya saudara. profil itu pasti cocok untuk pekerjaan yang beresiko kematian.

Dan karena pada hakekatnya manusia sintetik adalah manusia juga, pada akhirnya mereka juga sadar bahwa setiap manusia punya hak untuk hidup, hak untuk bahagia dan hak untuk dicintai. demi mendapatkan haknya mereka akhirnya bersatu melawan manusia organik yang telah berlaku tidak adil kepada mereka. dunia yang aneh!

Semoga ilustrasi diatas hanya imajinasiku, dan tidak akan terjadi kapanpun.

Solusi cerdas atau sebuah kesalahan?

Menghadapi semakin mahalnnya biaya produksi pertanian, yang tidak seimbang dengan harga jual produk pertanian. petani mengatasi persoalan itu dengan caranya sendiri. yang saya tulis ini adalah sebuah kegundahan tentang nasib pertanian diwilayah saya.

Siapapun tahu bahwa biaya untuk menanam jagung lebih tinggi dibanding menanam tanaman palawija lain, persoalan itu masih ditambah sulitnya mendapat pupuk tepat waktu. nah, petani diwilayah saya mengatasi kesulitan pupuk ini dengan menggunakan “pupuk cair”. pupuk cair yang saya maksud adalah cairan yang dijual pertangki (5000 liter).

sebenarnya secara ekonomi “pupuk” ini lebih menguntungkan, selain murah dan dalam penerapannya pupuk ini telah memberikan banyak lapangan pekerjaan.  tetapi banyaknya hal yang tidak jelas dari produk inilah yang membuat saya kuatir. diantaranya

  1. produk ini katanya hasil pengolahan limbah penyedap rasa, karena bahan dasarnya molase maka produk ini organik. kenyataannya, sedikit saja cairan ini kena tanaman (jagung) maka tanaman itu mati.
  2. jika produk ini memang pupuk yang telah berizin, seharusnya ada komposisi bahan yang terkandung dan aturan penggunaan pada tanaman. hal ini jelas tidak ada! dan petani cenderung semakin meningkatkan volume pemakaian (7000 liter/ha).

Melihat kenyataan yang terjadi disekitar saya, dalam pikiran saya jangan-jangan selama bertahun-tahun ini lahan pertanian telah dijadikan tempat pembuangan sampah!!!! memang tidak saya pungkiri bahwa tanaman yang mendapat perlakuan “pupuk” ini tumbuh lebih hijau, sedangkan apakah hasil panennya lebih baik, hal itu masih perlu banyak penelitian.

Tetapi semua itu hanya kegundahan pribadi saya, saya hanyalah seorang yang butuh kejelasan. dan tentu saya sangat terbuka terhadap segala informasi.

Misteri matinya kedelai

Karena hasil panen padi musim ini tidak terlalu bagus, aku berpikir bagaimana agar dana yang tersisa, yang tak begitu banyak ini cukup untuk menanam lagi. secara kebetulan pemerintah sedang menggairahkan petani untuk menanam kedelai. dalam hal ini pemerintah memberikan banyak bantuan kepada petani yang mau menanam kedelai, seperti bantuan bibit, pupuk dan pestisida.

Tanpa banyak pertimbangan aku langsung mengambil bantuan bibit kedelai itu. aku memilih penanaman tanpa olah tanah, selain hemat biaya metode ini yang paling disarankan.

Setelah lahan selesai diairi, kedelai ditanam dengan sara ditugal dengan jarak 20 cm x20 cm. dan lubang ditutup dengan abu bekas pembakaran ampas tebu. simple dan murah, aku hanya keluar biaya untuk pengairan dan tenaga tanam.

Tiga haripun berlalu, kedelai seharusnya sudah tumbuh. tapi sepertinya ada yang tidak beres, banyak kedelai yang sudah tumbuh (berkecambah)tapi akhirnya mati. dan kalo dihitung-hitung yang dapat tumbuh normal gak sampe 30 persen.

Banyak analisa yang diberikan teman-teman seprofesi, dan semua hanya tebakan-tebakan yang kurang dilandasi alasan yang kuat, sebenarnya saat seperti inilah seharusnya aku mulai konsultasi dengan orang yang lebih tahu. tapi daripada kelamaan nunggu ppl, akhirnya kuputuskan untuk mengganti tanaman kedelai dengan jagung.

Dan prosespun mulai dari awal lagi. tapi tetap aja ada rasa penasaran kenapa kedelaiku tak mau tumbuh, dan dua bulan lagi aku akan coba menanam kedelai lagi. Tunggu aja.