Musim tanam padi kali ini diakhiri dengan hasil yang tidak terlalu bagus, bahkan mungkin petani banyak yang merugi. penyebabnya tak lain adalah penyakit yang dikalangan petani dinamai potong leher.
Berapa kerugian petani?
kita hitung dulu biaya untuk melakukan penanam padi (dalam ha)
biaya olah tanah : Rp 660.000
biaya tanam : Rp 660.000
pupuk, (untuk didaerah saya per hektar menggunakan 1200 kg pupuk tunggal dengan takaran seadanya karena pupuk memang langka)
jadi biaya untuk pupuk sekitar : Rp 2.280.000
tenaga pemupukan sebanyak 3 kali :Rp 800.000
biaya penyiangan tahap pertama : Rp 840.000
biaya penyiangan kedua : Rp 600.000
biaya tenaga kerja lain-lain : Rp 1.500.000
pengendalian hama penyakit : Rp 1000.000
dan total biaya selama 90 hari adalah : Rp 8.340.000
dalam kondisi ideal hasil panen perhektar didaerah saya adalah 7500 kg
jika harga padi pada musim ini adalah Rp 2400 maka hasil panen yang diperoleh adalah Rp 18.000.000 dikurangi biaya panen Rp. 2.000.000 tentu hasil bersihnya adalah Rp 7.660.000
nah karena musim ini ada kejadian yang luar biasa maka perhektar hanya dapat menghasilkan 5000 kg dan dengan harga Rp 2200 maka yang dihasilkan petani adalah Rp 11.000.000 dan keuntungan bersihnya adalah Rp 1.560.000. tapi jangan kuatir jerami saat ini sedang laku-lakunya, perhektar bisa laku Rp 750.000, lumayan.
dengan catatan bukan sawah sewaan, tentu masih untung. walau kejadian ini sangat memukul petani dan layak dijadikan bencana kabupaten, tapi petani adalah pekerja yang tegar.
jangan bersedih, musim tanam jagung telah mulai semoga hasilnya lebih bagus.
ambil cangkul. ayo ke sawah.